Teman adalah penikmat sebagian dari kisah hidup kita. Tidak adanya teman membuat warna dan pattern dalam hidup menjadi berkurang. Sahabat adalah sebutan sebuah teman yang terasa lekat dengan diri kita. Teman tidak akan makan teman, ini bukan hanya ungkapan tapi suatu hal yang memang benar harus dilakukan.
Teman tidak pandang jenis, tidak pandang umur dan tidak pandang rupa. Teman adalah lukisan diri kita. Jadi ini adalah sebagian pattern -ku:
"Kau boleh acuhkan diriku, dan anggap ku tak ada"
- Ini bukan kalimat coba-coba. Sekali diacuhkan harusnya kau tahu bahwa dia tidak pantas untukmu. - Ini bukan kalimat coba-coba. Sekalipun kau bilang "kau boleh acuhkan diriku" tapi hati kecil yang paling mendalam kau pasti berkata, .harusya kau anggap aku ada.- Ini bukan kalimat coba-coba. Sekalipun ini berarti meganggapku tak ada tak mengepa, tapi perlahan kamu akan mencoba membuat dia menganggap kamu ada.
- Ini bukan kalimat coba-coba. Sekali diacuhkan harusnya kau tahu bahwa dia tidak pantas untukmu. - Ini bukan kalimat coba-coba. Sekalipun kau bilang "kau boleh acuhkan diriku" tapi hati kecil yang paling mendalam kau pasti berkata, .harusya kau anggap aku ada.- Ini bukan kalimat coba-coba. Sekalipun ini berarti meganggapku tak ada tak mengepa, tapi perlahan kamu akan mencoba membuat dia menganggap kamu ada.
Semoga membenci orag tidak dosa. Semoga.
Sebenarnya tidak masalah ketika kamu mengharuskan aku untuk bekerja keras seperti ulat yang hendak keluar dari kepompong. Ulat itu memang tidak membutuhkan bantuan, sekali ia dibantu ia tidak akan bisa terbang seperti keinginannya.
Tapi aku bukan ulat.
Seharusnya kamu mengerti, seharusnya kamu tau. Tidak mungkin aku dapat menyelesaikan semua masalah sendiri. T-i-d-a-k m-u-n-g-k-i-n.
Sebenarnya tidak masalah ketika kamu mengharuskan aku untuk bekerja keras seperti ulat yang hendak keluar dari kepompong. Ulat itu memang tidak membutuhkan bantuan, sekali ia dibantu ia tidak akan bisa terbang seperti keinginannya.
Tapi aku bukan ulat.
Seharusnya kamu mengerti, seharusnya kamu tau. Tidak mungkin aku dapat menyelesaikan semua masalah sendiri. T-i-d-a-k m-u-n-g-k-i-n.
Halo-halo para pembaca setia!
Masih setia nunggu postingan Nan yang nggak penting ini kan? *semoga* *berharap viewers makin nambah*
Setelah beberapa postingan curhatan yang makin menjadi sebelumya, kini saatnya untuk beralih ke postingan yang sedikit santai. Kali ini Na akan membahas tentang transformasi masa SMA ke masa kuliah (re:MABA). Sedikit informasi biasaya para MALA(Mahasiswa Lama) doyan baget godain maba-maba yang masih bening seperti sakura.
Masih setia nunggu postingan Nan yang nggak penting ini kan? *semoga* *berharap viewers makin nambah*
Setelah beberapa postingan curhatan yang makin menjadi sebelumya, kini saatnya untuk beralih ke postingan yang sedikit santai. Kali ini Na akan membahas tentang transformasi masa SMA ke masa kuliah (re:MABA). Sedikit informasi biasaya para MALA(Mahasiswa Lama) doyan baget godain maba-maba yang masih bening seperti sakura.
Jingga,
Karena ini adalah warna tomat yang akan matang. Seperti warna perasaanku saat aku mulai jatuh cinta.
Merah Muda,
Karena jatuh cinta itu seperti pingsan. Tidak menyadari apapun yang terjadi, tetapi saat terbangun kau akan mengerti bahwa kau sudah melewatinya.
Ungu,
Haha, ini adalah warna patah hati. Warna janda. Dan seperti kau tahu, bahwa aku dan kalian pasti pernah patah hati. Pasti.
Magenta,
Karena magenta adalah warna sebuah cinta yang tak mampu diluiskan dengan merah muda.
Hijau,
Kedamaian yang tercipta seolah berhenti disini.
Coklat,
Sama seperti itulah, buatku coklat adalah warna yang paling tak menentu.
Biru,
Kini seperti warna laut, kisahku berhenti sehjenak dikesedihan.
Hitam,
DUKA CITA SEBUAH RASA.
Abu-abu,
Ketika duka kental ini tak lagi terasa dan akhirnya disinilah selama ini aku terperangkap.
Putih,
Aku masih sempat..
Menatap
ujung kacamatamu pada sela-sela riuhnya dunia...
Menatap
senyummu pada menit-menit terakhir.
Memikirkan
sosokmu, tanpa kamu.
Memikirkan
bagaimana aku bisa berjarak lebih dari seperlima dari satu meter.

