Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam
samudera terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat
tak bernama, tetapi terasa ada
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak
dan bayang
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang
antara duka mencinta dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi
bersiap diri untuk selamanya lelap
Kali ini, akan kusampaikan padamu. Pada kalian. Tentang
cinta. Tentang cerita negeri bernama senyuman dan hujan yang kau sebut air
mata...tentang itu.
Sudah genap delapan minggu senyum ini tertanggal pada bibir
kering ini. Dan sudah genap 421 hari dia tidak pernah tau tentang itu. Dia
bahkan tidak mau menengok pada wajah usangku. Dan aku? Aku hanya diam.
Diam-diam menceritakan ini lewat curhatan dungu pada salah satu temanku. Aku
tau, aku terlampau hina untuk mendambakan rasa yang lebih dari itu, pertemanan.
"Terimakasih Tuhan, telah
sampai dengan selamat Adam as di sini, bumi"
sudah ribuan dekade atau sudah
pasti abad berlalu ketika makhluk 'sempurna' itu tercipta. Dan sudah pasti
saraf yg terlalu sensitif untuk sekedar kau sentuh itu sudah terhubung. Dan
sudah pasti rasa yang dengan tanpa sadar kau Tuhankan atas logika itu sudah
mulai menguncup. Menebarkan gelitik wewangian dan letupan.
Sebut saja makhluk itu Manusia.
Dalam sebuah dimensi yang hampir millenium manusia belajar. Mulai dari menangis
hingga membuat tangis.
Karena ketika dia datang, ada kabar
tersembunyi yang tiba-tiba merayap pada hati.
Ingin ditebak-tebak. Seperti halnya menunggumu, mengetikkan beberapa tuts keyboard di sosial media.
Ingin ditebak-tebak. Seperti halnya menunggumu, mengetikkan beberapa tuts keyboard di sosial media.
Karena ketika dia datang, ada kabar tersembunyi yang tiba-tiba merayap pada hati.
Ingin diterka-terka. Seperti halnya senyummu. Manis, namun kadang sakit ketika melihatnya.
Karena ketika dia datang, ada sebuah harapan untuk sebagian hati yang masih terluka. berharap-harap cemas disembuhkan oleh kedatangannya.
Tapi kau tahu? ketika dia tiba-tiba
pergi dengan biasanya. Dengan harapan tanpa rasa sakit yang menyayat. Dengan
harapan cinta yang tertanggal pada hati kupu-kupu itu.
Ketika itu aku hanya bisa meratap. Bukan meratap sedih, bukan juga meratap kecewa. Aku tidak tahu ini aku meratap apa. Aku tidak memungkiri ketika ada celah kosong terasa pada hati. Lain dengan naluriku yang enggan mengakuinya.
Ketika itu aku hanya bisa meratap. Bukan meratap sedih, bukan juga meratap kecewa. Aku tidak tahu ini aku meratap apa. Aku tidak memungkiri ketika ada celah kosong terasa pada hati. Lain dengan naluriku yang enggan mengakuinya.
Dua tahun yang lalu, angin melaksanakan tugasnya dengan
sangat baik. Dua tahun yang lalu, keadaan dengan indahnya menyenangkan aku.
See? Itu dua tahun yang lalu.
